...yang artinya sepertinya gw gak akan update blog ini lagi. LOLs.
Kenapa? Karena ketenangan saya telah terusik *DIBACOK*
Well, hanya bosan. Butuh suasana baru. Jadi mungkin gw pindah ke blog baru yang alamatnya bisa diakses di... heu, ntar aja deh. Biarin ga usah dipublish *sok penting abis, emang gw siapa gitu, LMAO* Ya udah, ini semua barang gw sudah di-packing. Saatnya pindah.
Smellyalata, folks.
[daunitem]
22 September 2009
23 June 2009
Mad World
Langit cemerlang pagi itu. Sepertinya semalam hujan karena hari ini sedikit dingin dan terasa lembab. Sepertinya—karena dia sendiri tidak ingat. Apakah semalam hujan, bulan sesenggukan, atau bintang bersembunyi di balik semburat tipis altokumulus malam buta—dia tidak ingat (atau mungkin tidak peduli). Detik ini dia resah. Setiap kali dia melangkah, keping rasa itu bertambah. Dan kini ia menumpuk dalam suatu timbunan aneh yang tak bisa dijelaskan. Yeah, resah itu. Peradaban menyebutnya firasat. Sejenis perasaan tidak jelas, namun ditepisnya rasa itu menjauh sesaat. Ditatapnya bangunan merah muda tipis dengan keramik yang tersusun apik hingga separo ketinggian dindingnya. Dia punya perasaan bahwa dia terlambat. Jadi seharusnya sekarang dia cepat.
Sekolah. Sebuah tempat familiar yang terasa asing. Langkahnya pada undakan dengan tepian semak asoka yang merekah ranum bahkan belum rampung ketika sebaris teriakan nyaris menulikan telinganya. Segumpal histeria yang beraura negatif: siapapun yang berteriak barusan terdengar seperti sedang merilis sebuah ketakutan atau kepanikan luar biasa. Dan demi Cerberus—yang berteriak tidak hanya satu orang. Sekumpulan. Lidahnya kelu ketika kakinya berhenti menderapkan langkah. Kepalanya berputar; mencari. Tidak sulit untuk menemukan siapa, karena ia melihat segerombolan manusia berlari panik ke arahnya. Mereka pias dalam sebuncah ketakutan. Detik mengalir, dan gadis itu menahan satu bahu yang bersiap lewat.
"Ada apa?"
"Penembakan," sang pemilik suara terengah. Matanya melebar ngeri. "Massacre."
Hati gadis itu mencelos. Resah-nya seperti terjawab di satu bagian tertentu. Namun dia menendang kemungkinan itu ke liang sampah terdekat. Sementara sosok yang ia tanya melanjutkan kalimat dalam suara melengking panik.
"Mereka—mereka membunuh satu guru."
Mereka.
Lebih dari satu.
"Guru?" Darah terpompa ke bilik jantungnya. "Siapa?"
Yang ditanya menyebut satu nama. Guru bahasa Inggris yang dikenal luas memiliki pamor baik dan salah satu favorit para siswa sekolah ini. Nama yang familiar—tentu saja. Berhasil membuatnya terhenyak diam, sementara otaknya berusaha merangkai fakta-fakta tentang ketidakmungkinan sesuatu.
"Sebaiknya kau lari," si rekan bertukar kalimat melanjutkan. "Mereka disana, masih melakukan tindakan gila itu. Dan mereka mendekat, kau tahu."
Dia tidak tahan. Sebuah kalimat tanya satu kata lima huruf yang sejak tadi ingin dilontarnya sedang tersangkut di pangkal tenggorokan. Dia ingin tahu—
"—siapa?"
"Eric Harris." Jeda. "Dylan Klebold."
Tanpa menunggu respon, sosok itu berlari kabur. Menyelamatkan nyawa, mungkin mencari tempat bersembunyi. Atau menelpon polisi. Namun gadis itu bergeming. Kabut putih turun ke korneanya yang jernih. Dan memorinya melambung.
"You're friggin' crazy, Harris, and you DO know that. Jangan bercanda yang tidak-tidak."
"I'm not crazy. Crazy is NOT a word for me."
Dylan tertawa. Panjang. Passionately. Gadis itu menatap mereka berdua dalam suatu kegamangan yang aneh. Dia tidak mengenal dekat dua orang ini. Hanya nama mereka yang selama ini tersimpan dalam memori otaknya sebagai dua orang siswa yang bersekolah di tempat yang sama dengannya. Hanya itu. Bukan haknya untuk tiba-tiba meretas satu bagian dalam diskusi menarik mereka tentang rencana pembabatan nyawa para penghuni sekolah ini—salahkan telinganya yang terlalu penasaran untuk tidak menguping. Entah bagian ini harus disyukurinya atau malah harus dikutuksumpahi. Namun entah mengapa dia benci berada dalam posisi ini. Menatap diam Dylan yang masih terbahak menertawakan entah-apa-yang-baginya-sangat-lucu, dia mengalihkan pandang pada Eric Harris yang duduk bergeming tak berkomentar. Bibirnya separo menyeringai dalam posisi kepala yang sedikit miring menatap ke depan.
"Konyol."
"F*ckers should be shot."
Dylan (masih) tertawa.
"Tidak lucu."
"So when should it be, V?" Eric Harris mengalihkan pandang selagi ia bicara seolah gadis itu tidak ada di hadapan mereka. "NBK came quick."
Dylan melenguhkan dengkingan tawa terakhir sebelum mengubah posisi duduknya.
"Holy April, Reb." Ekspresi pemuda berkarakteristik wajah khas itu mengeras dalam satu kerlip pedih yang ganjil. "Time for the wrath."
Goblok.
Entah siapa; batasnya tak lagi terlihat. Apakah dua orang yang kini sedang berlumur obsesi setan dan sedang membabat nyawa-nyawa di seberang sana. Atau dia: yang melangkah dalam baluran rasa sesal aneh—karena: mengapa dia harus menyesal? Namun sekarang bukan tiga kata terakhir dalam cetak miring yang seharusnya bertengger setelah kata mengapa. Gadis itu direngkuh rasa bingung: mengapa mereka melakukannya? Dia menciptakan satu langkah lebar pelan, sementara beberapa orang lagi berlari ke arahnya seperti semut yang sarangnya ditendang ujung sepatu sekumpulan anak yang menjamah tanah mereka. Seharusnya dia berbalik, bergabung bersama manusia-manusia yang telah bertingkah layak. Menyelamatkan diri. Namun kakinya—
BANG!!
—tak bisa diajak kompromi.
BANG!! DRRTT DRRTT!!
Ah. Suara tembakan.
Seorang gadis berteriak. Dua orang tertawa.
"This is what we always wanted to do!"
BANG!!
"This—
—is—
—awesome!"
Eric Harris. Dan Dylan Klebold.
Matahari menyinari mereka, dua orang yang tengah tertawa seraya mengacungkan senjata yang menyalak tanpa bisa ditebak kapan. Dua senjata—untuk masing-masing perantara Grim Reaper. Harris tampak tenang, satu tangannya yang mencengkram 9mm Hi-Point 995 Carbine terlindung di sisi lain tubuhnya, sementara ia membidik sawed-off shotgun ke arah sekumpulan siswa yang mencoba menyelamatkan diri. Seringainya merekah sebelum ia menembak diiringi tawa penuh kemenangan dari rekannya, Klebold—yang melangkah mengitarinya dengan satu tangan mencengkram sebuah TEC-9 dan tangan yang lain merengkuh pelatuk sawed-off shotgun. Mata gadis itu terpancang pada keduanya, sementara torsonya bergetar seraya menepi pada sebuah pangkal dinding yang cukup lebar untuk menyembunyikan tubuhnya yang mungil.
Namun sayangnya terlalu dekat.
BANG!!—diperuntukkan sekumpulan manusia lain. Dan teriakan lain.
"I don't believe I just did that." Seringai. "Cool."
Setan!—gadis itu mengumpat.
Dan Eric Harris menoleh padanya. Tak ada kata. Mata keduanya bertemu. Dia mengerjap, mendengar satu BANG! dirilis oleh rifle sang REBdomine, dan detik berikutnya dia telah tersungkur ke tanah yang berpasir kasar dengan perut bersimbah darah.
Ah.
Tanpa berpura-pura mati pun tubuhnya terdiam beku, tengkuknya mendingin. Matanya nanar menatap satu titik. Ia kehilangan visi jelas dari pemandangan di depan sana. Yang bisa ia andalkan hanyalah kedua telinganya yang terpasang untuk merekam hal-hal yang identik: tembakan, teriakan, dan tawa. Dalam detik detik yang memasung geraknya, dia mencoba melarikan diri dari kungkungan kaku itu. Sekedar untuk melihat dengan matanya apa yang sedang terjadi. Tidak mencoba mengabaikan rasa sakit.
Karena tak ada rasa sakit.
BANG!!
Lagi?
Yeah. Entah siapa yang baru saja menembak, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Namun dengan merubah posisi seperti ini, kedua orang itu kini terpantul jelas pada korneanya. Dan entah apakah Tuhan menganugerahi seorang Eric Harris dengan sebuah intuisi tajam, karena kini—sekali lagi—ia tiba-tiba menoleh pada dia, gadis yang teronggok di tanah berpasir berteman genangan darah menghitam. Kali ini adalah giliran unjuk gigi sang sawed-off shotgun, yang terangkat dalam posisi bidikan oleh Harris.
BANG!!
.
..
...
....
MISSED.
Berhenti.
Harris beralih. Mengira sang korban mungkin telah tewas. Atau mungkin dia tak peduli apa sesosok manusia yang baru saja ditembus peluru shotgunnya masih hidup atau telah berhenti bernafas.
Mengapa...
Pelipis kanannya. Dia merasakan itu—serpihan peluru shotgun. Peluru yang menghantam dinding batu beberapa senti dari titik dimana kepalanya bersandar pada permukaan tanah. Memecahkannya jadi kepingan-kepingan kasar yang beterbangan brutal ke segala arah. Beberapa tersesat ke kulitnya yang kering. Merobek pembuluh darah yang mengalir di bawah permukaan jaringan itu sehingga sekarang pelipis penuh luka itu dipenuhi aliran-aliran tipis merah gelap. Tubuhnya terdiam setelah bergidik parah, lebih karena rasa kaget. Dia berusaha tidak mempertanyakan kemana gerangan perginya rasa sakit. Yang ia inginkan hanyalah mereka berdua berhenti menembak. Tidak ke arah orang-orang di depan sana, tidak pula ke arahnya.
Dan tidak—tidak juga pada kepala mereka sendiri.
Bola hitam kembarnya mengerling dua sosok itu. Jika sekali lagi Harris menoleh dan mungkin akan melancarkan double-attack dari rifle dan sawed-off shotgun, maka dia tidak akan kaget lagi. Namun sesuatu berkata lain. Karena ketika ia mengamati apa yang akan dilakukan Eric Harris, sosok rekannya yang bertubuh jangkunglah yang memutar persendian leher. Memandangnya. Tiba-tiba. Gadis itu bisa melihat jelas topi hitam Boston Red Sox yang dipasang terbalik di atas rambut cokelat yang mencuat itu. Dan kaos hitam dengan tulisan merah besar bertutur WRATH yang membungkus tubuh ringkih milik Klebold. Dan black cargo pants yang menggembung oleh senjata tajam dan bom-bom pipa. Dan combat bootsnya yang kusam berdebu melangkah mendekat. Dalam sebuah wajah tirus tanpa ekspresi, pemuda 17 tahun itu membidikkan sawed-off shotgunnya.
Pada kepala gadis itu.
Dylan Klebold, hm?
BANG!!
Dia terhenyak.
Dan mata cokelat itu menatapnya. Sebelum melangkah berbalik, mungkin. Entah—apakah Klebold berbalik pergi meninggalkannya dengan sebuah luka menganga di pelipis kiri, dia tak pernah tahu. Yang ditangkap matanya hanyalah lingkungan yang mendadak menggelap. Mengabur. Ke dalam sebuah latar belakang hitam sempurna entah datang darimana. Dalam sebuah penggal detik-detik gelap itu, sudut matanya melirik ke samping. Pada dua orang yang berselubung aura jahanam. Pada REBdomine. Pada VoDKa. Pada pertanyaan mengapa yang tak terjawab.
Dan nafasnya—
Mengapa?
—terputus.
And I find it kinda funny
I find it kinda sad
The dreams in which I'm dying
Are the best I've ever had
(Mad World - Gary Jules)
berdasarkan sketsa buram bawah sadar
dengan beberapa improvisasi dialog
20 Mei 2009
(lagi sarap, DILARANG PROTES *ngacir*)
18 May 2009
Kalo lo ke NYC dan berencana keliling tanpa naek subway buat ngehemat duit...
...maka bawalah kaki cadangan. SERIOUSLY.
[to be continued, too tired to type rite now == ]
23 April 2009
It Doesn't Matter
You know what?
*tunjuk judul*
Yeah, it doesnt' matter 
the end
anda gak ngerti? it doesn't matter.
Karena apa?™
udah ah
udah ah
((based on a-gajebo-IM-session, Apr 23 2009
*disumpel teripang*))
21 April 2009
Eeny, Meeny, Miney, Moe
Kalo gw lagi terobsesi pada sesuatu dan di depan gw ada laptop yang terkoneksi dengan internet (yang sumpah tokai abis tu internet, mentang-mentang gratis *malah curhat*) gw bisa gila-gilaan browsing dan keliling Google dan mengklik segala macam source, entah itu video, gambar, artikel, segala macem hal yang berkemungkinan gw jangkau. Misalnya, kayak beberapa waktu yang lalu, sebuah artikel tentang mesin waktu bikin gw gila. Dalem ati gw berharap mesin waktu itu ada—nope, gw gak mau merubah masa lalu karena itu DOSA (just IMHO lho) dan gw juga gak akan mengintip ke masa depan karena emang pada dasarnya itu belum terjadi. Sama aja dosa, ngelangkahin Tuhan, men.
Jadi? Ya gw cuma... cuma pengen mesin waktu itu ada. It sounds frikin-awesome, bener-bener nyantol di pikiran gw. Apalagi setelah ngeliat film-film genre sci-fi dengan tema time traveling dan semacamnya. Ditambah gw nemu artikel tentang teori Einstein mengenai relativitas waktu, ngebaca artikel tentang proyek terbaru CERN (European Organization for Nuclear Research) yaitu LHC alias Large Hadron Collider mereka yang berkemungkinan dua hal: new big bang alias kiamat dan... terciptanya mesin waktu. Oh well, gw sampe nyari-nyari artikelnya dan videonya—and I started to sound like an obsessed-pathetic-nerdus rite now, oh well. Belum apa-apa sebelom gw ngebaca artikel tentang John Titor dan menjelajah websitenya. ANJRID, SESEK NAFASSSS o_O;;
Kemungkinan besar ceritanya HOAX murni, tapi asli, mata gw melek ngebaca tentang seseorang time traveler yang datang dari tahun 2036 ke tahun 1980-an buat ngambil sample komputer jebot. Ceritanya dia mampir ke tahun 2000 buat mengunjungi keluarganya dan sempet-sempetnya join di forum dan ngepos juga disana. Iya, yang mau nabok gw sekarang sih boleh, siapa tahu sekrup di otak gw yang longgar tau-tau ngenceng lagi. Tapi... itulah. Gw dibuat gila. Satu sisi, gw diseret napsu kemaniakan gw sama time travel untuk, seenggaknya, percaya bahwa nggak ada yang nggak mungkin, jadi mesin waktu dan penjelajah waktu juga mungkin (so classic, I know). Di sisi lain, gw berusaha mengais-ngais otak gw, siapa tahu masih ada sisi realitis yang ngegumpel. Percaya gituan ngabisin waktu aja, mending ente ngerepp sono, utang repp numpuk di IH dan seterusnya =)) *mencekik diri sendiri*
But—I'm just obsessed, jadi... maklum aja deh. Soalnya entah dua, tiga, sepuluh hari kemudian kegilaan itu mereda sendiri. Alhamdulillah =))
Dan sekarang, gw terobsesi lagi. Sama sesuatu yang lain. (sigh) Bukan men, yang gw omongin sekarang bukan Tequilla Graffeint Ziethenmeyer von Sirius (ini chara IH, kerennya nyenggol nirwana, gw lagi gak lebay, FYI :D) meskipun yeah, gw cinta tuh chara *lirik PMnya =))* Well, semuanya di awali pas gw lagi ListVerse-walking dan dengan biadab memenuhi tab-tab Mozilla dengan artikel-artikelnya. Dan gw nyasar ke artikel 10 Worst School Massacre. Mata gw sedikit terpaku pada list nomor 8 yang dikenal sebagai US' Worst High School Massacre—oh man, 15 tewas, 24 luka-luka, pelakunya dua orang dan dua-duanya masih seumuran gw, dan mereka mengakhiri semuanya dengan bunuh diri. Perfect, gw nelen ludah. Yang lagi gw ocehin adalah peristiwa Columbine High School Massacre yang terjadi di Columbine, Colorado, tepat sepuluh tahun satu hari yang lalu dari tanggal gw ngepos entry ini.
Sebenernya gw ga sengaja tau-tau ketemu link Wikipedia-nya. Pas gw baca... ajegile itu artikel lengkap abis dan sangat dramatis (entah didramatisasi atau emang karena peristiwanya lebih thriller dari film The Mist) sampe kronologis secara runut, daftar nama korban, dialog antara pelaku dan korban, ada semua. Lengkap. Gw berasa baca novel yang diangkat dari kisah nyata, dan ini menarik perhatian gw (karena genrenya crime-thriller, anggaplah itu anak cabang horror *disumpel teripang*). Link-link yang ada disana gw klik, termasuk link menuju artikel Wiki tentang pelaku dan korbannya. Dan gw menemukan VIDEO INI, rekaman asli petugas 911 dengan Pattie Nelson, salah satu guru Columbine HS yang menelpon langsung dari perpustakaan saat kejadian berlangsung. Pada 4:16, lo bisa denger salah satu pelakunya teriak "GET UP!" saat mereka masuk perpustakaan (FYI, korban terbanyak dari peristiwa ini berasal dari penembakan di perpustakaan).
Syalalalala, anjrod. Gw ngedengernya dengan rahang nganga, pasrah dengan gravitasi bumi. Dan itu YouTube gw ubek-ubek dan gw menemukan VIDEO INI, sebuah film pendek sejenis reka ulang kejadian Columbine Massacre oleh Discovery Channel... dan itu video biadab, detail abis dan persis seperti alur yang gw baca di Wikipedia. Memang ada beberapa bagian yang sedikit beda dan nggak semua penggambaran alur ditampilin. Bagaikan Harry Potter—setelah gw terkesan dengan "novel"-nya sekarang gw menyaksikan filmnya. Oh man. Tuh video bikin gw gila. Gw nonton 4bia, Shutter, atau The Mist, adegan-adegannya gak pernah nyantol di otak sampe 10 hari kedepan—tapi film pendek ini... darn, 10 hari lebih kebayang-bayang di depan mata gw. Eksplorlah YouTube, video tentang Columbine banyak kok, termasuk rekaman asli CCTV kafetaria saat kejadian. Nge-thrill deh sono *plakk*
Walhasil hari itu gw browsing banyak-banyak—artikel, foto, video—mumpung libur spring break. Dan kejadian ini ternyata di-remake dalam film. Gus Van Sant's masterpiece, pemenang Cannes, judul filmnya Elephant. Gw inget film ini pernah disebut di bukunya Farida Susanti yang judulnya ...dan hujan pun berhenti lengkap dengan kutipan eeny, meeny, miney, moe-nya itu. Gw juga inget si Nyus pernah make kata-kata itu di tantangan Ramalan Hogwarts Cup pas gw masih kelas 3 di IH. Jadi... quote itu lumayan nyantol di otak gw.
Francis memalingkan wajahnya menatap Mobbrenette yang terlihat sangat serius menatap kedua lukisan tersebut. Terlihat sedikit tegang raut wajah senior musangnya itu. Hmm... pasti ia mempunyai banyak masalah. Francis dengan cepat menjentikkan jarinya —CLEK— di hadapan wajah Mobbrenette dan bergumam pelan, “Lihat senior. Aku tahu kita harus memilih pintu yang mana. Watch me!” Bocah pirang itu kemudian dengan jari telunjuknya, menunjuk ke arah lukisan sebelah kiri (lukisan dengan bulan berwarna jingga terang) dan serentak bergumam pelan, “Eeny, meeny, miny, moe. Catch a baby by the toe. If it squeals let it go. Eeny, meeny, miny, moe,” dan berakhir dengan jari telunjuknya, menunjuk pada lukisan sebelah kanan (lukisan dengan bulan berwarna putih pucat). Francis sedikit tersenyum menatap Mobbrenette, hanya agar seniornya dapat lebih santai saat itu dan melepaskan ketegangannya.(c) Francis MacManus 2008 (Thread [HC] Divination at IndoHogwarts)
Oh well, gw cari link nontonnya di YouTube dan gak nemu =)) Gw Googling dan nemu linknya. Dan gw tonton. Dan gw gila. Syalalalalala~
Filmnya unik. Itu Gus Van Sant menurut gw sutradara PINTER. Scene-scene awal, I'm telling you, luar biasa membosankan =)) *shot* tapi itu tipuan karena berkesinambungan dengan gaya filmnya. Kalo kata Sari, dia pake teknik RPG di filmnya. Satu scene dilihat dari sudut pandang beberapa orang yang menciptakan beberapa alternate scenes, tapi berujung pada klimaks yang sama. Lo gak ngerti kan gw ngoceh apaan? Sama, gw juga ga ngerti =)) Tonton filmnya aja deh. Fur Elise dan Moonlight Sonata nongol di film ini, dan otak gw mengasosiasikan kedua instrumen ngetop itu sama Elephant =_= Scene terakhirnya dramatis. Anjrid. Judul dari entry ini adalah line paling akhir, dimana endingnya dibuat nggantung, tapi entah kenapa pake kalimat itu... jadinya bagus. Keren. Dramatis.
Alex: (sambil ngacungin senjata ke arah Nathan dan Carry, memilih siapa diantara keduanya yang akan dieksekusi lebih dulu) "Eeny, meeny, miney, moe. Catch a tiger by its toe. If he roller let him go."
Nathan: "You're f*cking sick. Don't do this!"
Alex: "Eeny, meeny, miney, moe."
MYGAWD. Gw jadi pengen nonton lagi T___T
Oke. Bentar lagi mungkin tingkat kegilaan gw sama Columbine Massacre dan Elephant bakal reda sendiri, tapi ditunggui 10 hari gak reda-reda juga. Malah gw bertekad bikin entry pada 20 April 2009 supaya pas 10 tahun dari tanggal kejadian *dan Sari, katanya mau buat ode untuk Virginia Tech Massacre, 16 April 2007? =))* Gw emang ngepos entry-nya 21 April sih. One sec. Host Mom gw ultah hari ini =)) *ajigile, topiknya ngejomplang* Oyeah, gw ama Sari terobsesi gara gara dia ngirim IM pas gw lagi nonton Elephant... dan status YM-nya tuh pas banget, mengandung kata peek-a-boo dan pada akhirnya kita berdua ngobrol panjang lebar soal Columbine Massacre dan Elephant. Soal peek-a-boo ini, salah satu pelaku penembakan, Eric Harris ngucapin "PEEK-A-BOO!" sebelum menembak salah satu korban bernama Cassie Bernall :| :|
Official reports state that Harris then walked over to the table across from the lower computer row, slapped the top twice with his hand, knelt down, and said "peek-a-boo" before shooting Cassie Bernall in the head.
(c) Wikipedia
Oh well. Entry ini didedikasikan untuk semua korban yang meninggal dunia maupun yang luka-luka pada kejadian tepat 10 tahun 1 hari yang lalu di Columbine High School, Littleton, CO. Iya, gw tahu mungkin gw lebay, gw gak kenal mereka, apalagi mereka, gak mungkin kenal gw B-) Tapi cerita tentang worst high school massacre yang merubah sejarah Amerika Serikat tentang peraturan kepemilikan senjata api ini berhasil bikin gw tercengang, tercenung, mendekapkan telapak tangan ke mulut, dan sedikit gila dalam waktu yang bersamaan. Lu bayangin aja gw sampe sempet takut datang ke sekolah pada tanggal 20 April 2009 alias hari Senin kemaren =)) Gimana ya, siapa tahu ada sepasang imbisil setres yang terinspirasi mengulangi sejarah Columbine tepat sepuluh tahun kemudian. Wiw. Imajinasi... *bikin lengkungan berbentuk pelangi ala Spongebob =))* Dan nggak ada salahnya juga gw meluangkan dua jam untuk ngetik ini (ya sekalian update blog gitu lho =)) *shot*)
Subscribe to:
Posts (Atom)





